Potensi Golput pada Pilpres 2019 Meningkat

Potensi jumlah masyarakat yang akan golput diperkirakan mencapai 20 persen. Di tahun 2014 sendiri, angka golput mencapai sekitar 30 persen. Ini sudah termasuk dengan orang-orang yang tidak masuk dalam Daftar Pemilih tetap (DPT) dan juga yang tidak mendapat undangan untuk memberi hak suara.

Mereka yang memilih untuk golput menyatakan bahwa mereka kecewa atas dua calon presiden yang ada. Seperti Lini Zurlia, aktivis pembela hak kaum LGBT. Ia menyebutkan bahwa alasannya ia golput karena calon wakil presiden Joko Widodo mempunyai rekam jejak yang ‘sungguh maha dasyat’ pada tajamnya konflik antar agama. Sedangkan untuk Prabowo sendiri bukan sebuah pilihan karena rekam jejaknya di kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, menyebutkan bahwa debat perdana yang digelar pada 17 Januari kemarin, tidak berpengaruh  dalam mengubah pikiran orang yang memutuskan untuk golput. Pangi melanjutkan, bahwa visi, misi, dan narasi yang mereka sampaikan terkesan tidak substansial dan dangkal.

Survei Indikator mencatat jumlah undecided voters saat ini sudah mencapai angka 9,2%. Angka ini juga masih bisa bertambah karena, terdapat juga masyarakat yang masih berstatus sebagai swing voters. Namun menurut Analis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto, angka golput tidak akan melonjak signifikan karena masyarakat telah didoktrin bahwa memilih merupakan kewajiban, bukan hak.

Pengacara public LBH Jakarta, Arif Maulana, bahkan mengatakan bahwa golput merupakan salah satu bentuk ekspresi politik dan merupakan sebuah hak. Jadi golput merupakan ekspresi politik yang legal.

Sumber :

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46970330

https://katadata.co.id/berita/2019/01/09/potensi-golput-menghantui-pilpres-2019

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *