Upah Minimum Masih Menjadi Perhatian di Hari Buruh 2019

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengatakan bahwa permasalahan upah minimum masih menjadi tuntutan dari pendemo saat peringatan Hari Buruh Internasional atau dikenal dengan May Day. Hal ini karena dalam empat tahun terakhir, beban utama buruh terdapat pada upah minimum.

Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan bhwa formulasi upah minimum yang terdapat di Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, masih tidak memperhatikan harapan para buruh. Dalam beleid dikatakan bahwa kenaikan upah minimum dihitung dengan menambahkan inflasi ditambah dengan pertumbuhan ekonomi.

Namun, isu ini kian tenang setelah terdapat janji presiden Joko Widodo untuk merevisi aturan tersebut. Selain hal itu, buruh juga meminta penambahan item di dalam Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Tercantum dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 15 Tahun 20015, KHL berisikan 60 item, sedangkan buruh sendiri memint 84 item sebagai dasar perhitungan KHL.

Said juga meminta pemerintah untuk segera menghapus sitem pemagangan. Menurutnya sistem ini lebih berbahaya dari pada karyawan kontrak (outsourcing). Ini karena belum adanya aturan khusus untuk menjamin hak peserta magang, pemberi kerja bisa bertindak semena-mena.

Mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli juga ikut memperhatikan permasalahn ini dan mengatakan bahwa formulasi upah minimum yang ada sekarang tidak memberikan kesejahteraan bagi buruh. Ini karena formulasi upah buruh ditentukan dengan pertumbuhan ekonomi dan inlasi. Sedangkan pertumbuhan ekonomi sendiri hanya bertahan 5 persen selama beberapa tahun dan inflasi semakin menurun.

Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190501154442-20-391155/hari-buruh-2019-upah-minimum-masih-jadi-sorotan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *